Tampilkan postingan dengan label arsitektur bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitektur bali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2021

Dampak Gaya Arsitektur Majapahit Di Bali

Masuknya Arsitektur Majapahit di Bali

Pada massa sebelum kedatangan Majapahit, seluruh masyarakatBali ketika itu disebut dengan Bali Asli. Barulah sekitar tahun 158 Masehi datanglah Maharesi Markendhya (sekte Waisnawa) ke Bali dan membuatkan anutan Hindu di Bali.

Kemudian penduduk yang tiba bareng dengan Maharesi Markandya disebut dengan Bali Jawa. Maharesi lalu lebih banyak datang ke gunung-gunung sehingga masyarakat Bali Jawa yang ada di gunung waktu itu disebut dengan penduduk Bali Aga , alasannya Aga ternyata mempunyai arti gunung.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Candi Bajang Ratu - waktuku.com

Kemudian pada Tahun 1343, terjadi korelasi ’bilateral’ antara Majapahit dengan Dalem Kresna Kepakisan yang bertahta di Gelgel (Klungkung). Majapahit kemudian menjadi ‘model’ modernisasi dalam segala bidang pada era pemerintahan Dalem Kresna Kepakisan tersebut. (Gantini, 2008).

Hubungan bilateral ini ternyata besar lengan berkuasa pada arsitektur di Bali atau dengan terjadi peniruan besar-besaran balasan model ‘modernisasi’ Majapahit oleh seluruh kerajaan Gelgel mengikuti arsitektur yang dibawa oleh Majapahit.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Pura dasar bhuana gelgel - purahindu.wordpress.com


Sebagai misalnya yaitu penerapan asta kosala-kosali pada nyaris seluruh lingkungan permukiman Bali. Kelak dikemudian hari rupa-rupanya dampak ini terasakan sampai sekarang, yaitu membentuk tampang arsitektur Bali yang hampir “homogen” yang begitu mendominasi nyaris diseluruh Bali.

Setelah Majapahit berhasil menaklukan Bali, maka efek arsitekturnya terasa makin lebih banyak didominasi, Ajaran agama pada saat itu sangat mensugesti keanekaragaman arsitektur di Bali. Namun walaupun mendominasi, tampaknya efek Majapahit tidak serta merta memakan kearifan lokal Bali dan terbukti beberapa kearifan setempat masih diterima dan dibiarkan meningkat .


Arsitektur Pura di Bali

Jika kita ingin menyingkap lebih dalam wacana Arsitektur Bali, maka yang pertama mesti dipelajari ialah Arsitektur Pura di Bali yang menjadi kiblat semua karya arsitektur lainnya di Bali. Hal tersebut alasannya adalah adanya pakem yang mengikat dalam pembangunan Pura-pura di Bali. Pakem inilah yang menjadi ciri khas kearifan setempat yang bertahan sampai saat ini.

Sementara untuk performa dan hiasan Arsitektur Bali yang khas mengacu pada beberapa filosofi yang muaranya ada pada Konsep Agama Hindu Bali yang dianut masyarakat Bali. Dalam tipologi bangunan di Bali suatu ornamen dilarang diposisikan asal pilih. Lahirnya ragam hias style Bali ini sudah dipengaruhi oleh hasil Akulturasi tradisi Hindu Majapahit yang meningkat di Bali dan berhubungan dengan sejarah masyarakat Bali itu sendiri.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Arsitektur Pura di Bali - wikipedia


Bali memiliki local wisdom atau kearifan setempat dan bisa menjaga abjad Arsitekturnya sampai sekarang. Dalam hal ini, Ada relasi dekat antara Arsitektur dan Tradisi masyarakat Bali itu sendiri. Hal ini mengambarkan bahwa Arsitektur tidak hanya selaku wadah suatu acara insan, namun juga sebagai identitas diri masyarakatnya.

Indonesia mulai melihat sejarahnya, tampaknya daerah lain juga mulai melirik Arsitektur Tradisionalnya mirip Rumah Gadang di Sumatra dan Rumah Joglo di Jawa. Alih-alih mengagumi arsitektur modern, Arsitektur tradisional ialah suatu pilihan yang mempesona.

Referensi :



Sumber https://www.arsitur.com/

Senin, 11 Januari 2021

5 Desa Rekreasi Di Indonesia Dengan Rumah Tradisionalnya

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari hukum budpekerti masyarakatnya. Contoh yang paling kecil dari tata cara penduduk di Indonesia yakni desa. Ada beberapa daerah di Indonesia yang mempunyai aturan etika yang besar lengan berkuasa sehingga dalam membangun rumah, masyarakat mesti mematuhi hukum tersebut demi kebaikan bersama. Berikut yaitu 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya yang khas :

01 Desa Wae Rebo, NTT

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari aturan adat masyarakatnya 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya
Desa Wae Rebo, NTT

Desa dengan rumah tradisional yang tergolong dalam desa populer di Indonesia selaku tempat rekreasi adalah Desa Wae Rebo. Desa ini terlihat mirip desa pedalaman dengan bentuk bangunannya yang sungguh khas. Bangunan yang mungkin jauh dari kata terbaru namun memiliki filosofi yang sungguh mengakar di masyarakat. Bangunan ini menjadi contoh arsitektur vernakular yang sebenarnya. Meskipun demikian, budbahasa suku-suku di sana masih menjadi hal penting dalam kehidupan mereka.

Untuk lebih spesifiknya, lokasi desa ini berada di kawasan Satarmase, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di desa ini, ada sekitar tujuh rumah yang memiliki tinggi dan diameter yang sama. Dalam satu rumah, sebanyak 6 atau 8 orang anggota keluarga dapat tinggal di sana. Namun, di samping bentuk rumah adatnya yang khas, hal lain yang mampu dirasakan di desa ini yakni pemandangan indah pegunungan dan perbukitan di sekitarnya.

02 Desa Penglipuran, Bali

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari aturan adat masyarakatnya 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya
Desa Penglipuran, Bali

Di pulau Bali, daerahnya sudah sebagian besar ditingkatkan untuk pelancong, sehingga modernisasi mampu ditemukan di nyaris setiap aspek di Bali. Tetapi ada salah satu hal di samping budaya dan seni yang tidak merasakan pergantian dari modernisasi, yakni desa-desa di Bali.

Meskipun pulau ini telah dibangun secara modern, nyaris semua desa di Bali masih memiliki lingkungan aslinya. Misalnya, yaitu desa Panglipuran ini. Desa ini terletak di daerah Bangli, Bali. Ada yang mengatakan bahwa desa ini bahu-membahu adalah desa terbersih dari semua desa di pulau Bali. Meskipun desanya tidak begitu luas, kondisi lingkungan yang higienis dengan budaya Bali yang kental yaitu hal yang menjadikannya lebih nyaman.

Salah satu ciri khas dari desa ini adalah penataan arsitekturnya yang sungguh matang. Mulai dari konsep masterplan (tata daerah) sampai fasad bangunan yang dibuat sedemikian indah. Rumah-rumah tradisional bali tetap dipertahankan, membentuk barisan berjejer linear yang di ujung puncaknya terdapat Pura selaku tempat suci. Konsep arsitektur Bali terasa sangat kental di sini. Banyak mahir yang menyebabkan lokasi ini sebagai objek observasi arsitektur.

03 Desa Baduy, Banten

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari aturan adat masyarakatnya 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya
Desa Baduy, Banten

Desa ini dikenal sebagai rumah bagi suku yang disebut Baduy. Lokasi desa ini berada di provinsi Banten pulau Jawa. Desa ini berisikan dua kawasan utama, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Begitu Anda jadinya datang di sana, Anda mampu melihat rumah tradisional mereka yang terbuat dari bambu. Lingkungannya juga sungguh terawat, sebab suku Baduy diketahui sebagai suku pecinta alam.

Suku orisinil penduduk Banten yang mempunyai rumah akhlak yang disebut Sulah Nyanda. Terletak di dalam tempat pegunungan, Suku Baduy hidup di dalam rumah adab yang terbuat dari kayu dan bambu. Rumah di desa ini dibangun dengan mengikuti kontur tanah. Hal ini sesuai dengan aturan budpekerti yang mewajibkan setiap penduduk yang ingin membangun rumah tidak menghancurkan alam sekitar demi membangun suatu bangunan. Untuk atap, rumah budpekerti Suku baduy memakai ijuk yang terbuat dari daun kelapa yang telah dikeringkan.

04 Desa Kete Kesu, Sulsel

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari aturan adat masyarakatnya 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya
Desa Kete Kesu, Sulsel

Sebuah desa yang memiliki sentuhan yang sungguh unik, ialah Desa Kete Kesu. Desa Kete Kesu ini terletak di tempat Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Anda dapat menyaksikan rumah tradisional mereka yang indah, Anda mampu melihat bahwa rumah tersebut sungguh berwarna-warni dan didekorasi dengan baik oleh penduduk lokal di sana. Setiap rumah memiliki motif unik dengan warna merah, kuning, hitam, dan debu-abu.

Ketika mendatangi Desa Kete Kesu Anda mungkin memiliki potensi untuk menyaksikan Erong. Erong yakni peti mati tradisional yang disimbolkan dengan kepala binatang. Sebagian besar erong di desa Kete Kesu nyaris mencapai 500 tahun.

05 Desa Beleq, Lombok

Rumah tradisional di Indonesia tidak terlepas dari aturan adat masyarakatnya 5 Desa Wisata di Indonesia dengan Rumah Tradisionalnya
Desa Beleq, Lombok

Desa beleq yakni wilayah peninggalan para leluhur penduduk sembalun, rumah tradisionalnya masih tetap dirawat dan dijaga, untuk mengingat sejarah desa yang pada beberapa periode silam pernah dihancurkan oleh letusan dahsyat Gunung Rinjani.

Di dalam wilayah Desa Beleq ini terdapat 7 buah rumah akhlak, 2 geleng tempat penyimpanan harta benda, 1 Bale malang atau berkelahi kawasan rapat dan beribadah, serta suatu batu bertuah yang disebut pasek gumi. Rumah budbahasa di Desa Beleq terbuat dari jerami (daun ilalang) dengan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibentuk dengan menggunakan tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat, kotoran kerbau dan jermai inilah yang mampu menciptakan lantai tanah pada desa beleq mejadi padat dan keras.

Demikianlah Desa adab yang populer di Indonesia dengan rumah tradisionalnya yang khas. Sebagai generasi penerus sekurang-kurangnyakita mengetahui dan menghargai budaya bangsa, tidak memandang budaya sebagai sesuatu yang antik, namun selaku sesuatu yang unik, keren dan pantas dikunjungi sebagai objek rekreasi populer.

Daftar ini cuma mewakili sebagian kecil desa di Indonesia yang mempunyai kekayaan arsitektur yang khas. Silahkan berikan komentar kalau berdasarkan sobat-sobat pembaca masih ada desa lain yang patut masuk daftar ini.
Sumber https://www.arsitur.com/

Kamis, 24 Desember 2020

9 Posisi Pintu Masuk Rumah Sesuai Arsitektur Tradisional Bali

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata dihentikan asal-asalan, ada banyak aspek yang memilih letak suatu pintu masuk rumah tradisional bali. Ketika pekarangan rumah menghadap jalan dengan orientasi ke utara aturannya akan berbeda dengan rumah yang menghadap ke selatan.

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata tidak boleh sembarangan 9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali
9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali - img by cakepane.blogspot.com


Bali selain punya kekayaan alam budaya ternyata juga menyimpan arsitektur yang melegenda. Di Bali rumah-rumah dan bangunan yang lain senantiasa dibangun atas dasar aturan yang mengacu pada asta kosala kosali dan asta bumi. Aturan ini seperti aturan feng shui di Cina, namun spesifik untuk bangunan tradisional Bali saja.

I Nyoman Suweta, S.Ag dalam bimashindusultra.blogspot.com menyampaikan bahwa dalam membuat pintu keluar-masuk pekarangan rumah, terlebih dahulu karang tersebut dibagi sembilan, lalu ditarik ketekan (hitungan) dari kiri ke kanan. Hal ini juga sama seperti yang ada dalam situs kalenderbali.org wacana posisi terbaik untuk memilih pintu rumah sesuai orientasi mata angin mirip berikut ini :

Pintu Rumah menghadap ke Utara

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata tidak boleh sembarangan 9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali
ketekan (perhitungan) untuk pemedal (pintu rumah bali) yang menghadap ke utara

Untuk pemedal atau pintu masuk yang menghadap ke Utara, ketekan atau perhitungannya dengan cara membagi 9 lebar lahan dan lalu dijumlah dari Barat ke Timur dengan detail selaku berikut :
  1. Polih arta saking tan becik = mendapat harta dari cara tidak baik (tidak baik)
  2. Sugih = kaya (sangat baik)
  3. Madue Santana = mempunyai anak (baik)
  4. Edalemin anak= kasihan pada orang lain (baik)
  5. Sering meweh = sering sukar (tidak baik)
  6. Sugih = kaya (sangat bagus)
  7. Sugih saking rabi = kaya karena istri (baik)
  8. Meweh saking anak lian= sulit sebab orang lain (tidak baik)
  9. Sering meweh = sering susah/sakit

Pintu Rumah menghadap ke Timur

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata tidak boleh sembarangan 9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali
ketekan (perkiraan) untuk pemedal (pintu rumah bali) yang menghadap ke timur

Untuk pemedal atau pintu masuk yang menghadap ke Timur, ketekan atau perhitungannya dengan cara membagi 9 lebar lahan dan lalu dijumlah dari Utara ke Selatan dengan rincian selaku berikut :
  1. Maduwe Sentana = mempunyai anak (baik)
  2. Sering meweh = sering sulit (tidak baik)
  3. Kawon = tidak baik (tidak baik)
  4. Wikan = cendekia (baik)
  5. Kapaten = meninggal (tidak baik)
  6. Rahayu = selamat (sangat baik)
  7. Sugih = kaya (sangat baik)
  8. Kaceda = celaka (tidak baik)
  9. Suka = bahagia (sangat bagus)

Pintu Rumah menghadap ke Selatan

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata tidak boleh sembarangan 9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali
ketekan (perkiraan) untuk pemedal (pintu rumah bali) yang menghadap ke selatan

Untuk pemedal atau pintu masuk yang menghadap ke Selatan, ketekan atau perhitungannya dengan cara membagi 9 lebar lahan dan lalu dihitung dari Timur ke Barat dengan detail sebagai berikut :
  1. Manggihdosa = menerima dosa (tidak baik)
  2. Polihistri = menerima istri (baik)
  3. Polihbhoga = menerima kuliner (sangat bagus)
  4. Kasiddhan = mampu, sukses (sangat bagus)
  5. Sadarana = hidup sederhana (sedang)
  6. Sering meweh = sering sulit (tidak baik)
  7. Bingbang = ragu (tidak baik)
  8. Rahayu = selamat (sangat bagus)
  9. Kapandungan = kecurian (tidak baik)

Pintu Rumah menghadap ke Barat

Membuat pintu masuk rumah di Bali ternyata tidak boleh sembarangan 9 Posisi Pintu Masuk Rumah sesuai Arsitektur Tradisional Bali
ketekan (perhitungan) untuk pemedal (pintu rumah bali) yang menghadap ke barat

Untuk pemedal atau pintu masuk yang menghadap ke Barat, ketekan atau perhitungannya dengan cara membagi 9 lebar lahan dan lalu dijumlah dari Selatan ke Utara dengan rincian selaku berikut :
  1. Sering sungkan = sering sakit (tidak baik)
  2. Kerahuang anak lingsir = kehadiran orang tua (suci) (baik)
  3. Masantana = mempunyai anak (baik)
  4. Kasorang rabi = direndahkan istri/suami (tidak baik)
  5. Kapandungan = kecurian (tidak baik)
  6. Suka = senang (sangat baik)
  7. Rahayu = selamat (sangat bagus)
  8. Manggih dosa saking oka = mendapatkan dosa dari anak (tidak baik)
  9. Tiwas = miskin (tidak baik)

Catatan : Dari beberapa buku dan sumber yang aku baca, ada beberapa perbedaan tafsiran diantara sumber-sumber yang lain, sementara saya menggunakan sumber dari bimashindusultra. Makara untuk menentukan keakuratan perkiraan ini, hendaknya berkonsultasi langsung terhadap para Undagi (arsitek tradisional) di Bali.

Referensi :

  • http://kalenderbali.org/pintupekarangan.php/
  • uy.com/search?q=cara-membuat-pemedal-pintu-masuk
  • WarigaDewasa, Sri ReshiAnandakusuma, Morodadi Denpasar Bali
  • Asta Kosala Kosali dan asta Bumi, I Wayan Bidja
  • Kamus Bahasa Bali, Sri Reshi Anandakusuma, Cv. Kayumas

Sumber https://www.arsitur.com/

Selasa, 08 Desember 2020

Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 Perihal Standar Arsitektur Bangunan Gedung

Pekerjaan Perencanaan Teknis Perbaikan Bangunan/Gedung dan Landscape Werdhapuranya rujukannya kepada Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung sebagai berikut :

Pekerjaan Perencanaan Teknis Perbaikan Bangunan Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung
Kantor Bupati Badung, Bali

  • Pasal 1 ayat 5 Arsitektur yakni tata ruang dan tata bentuk selaku wadah kegiatan manusia baik individu maupun kelompok untuk menunjang kemakmuran jasmani dan rohani.
  • Pasal 1 ayat 6 Tradisi yaitu kebiasaan yang diwariskan secara turun tumurun yang dianggap baik dan benar oleh penduduk .
  • Pasal 1 ayat 7 Arsitektur Tradisional Bali ialah tata ruang dan tata bentuk yang pembangunannya didasarkan atas nilai dan norma-norma tradisi baik tertulis maupun tidak tertulis yang diwarisi secara turun tumurun.
  • Pasal 1 ayat 8 Arsitektur non Tradisional Bali yakni arsitektur yang tidak menerapkan norma-norma arsitektur tradisional Bali secara utuh tetapi memperlihatkan gaya arsitektur Tradisional Bali.
  • Pasal 1 ayat 9 Arsitektur lokal ialah arsitektur yang telah mentradisi/berakar/mapan dalam budaya di sebuah satuan lingkungan tradisi dari tradisi kecil hingga lingkungan tradisi besar di Provinsi Bali.
  • Pasal 1 ayat 10 Arsitektur Warisan adalah arsitektur peninggalan kurun lampau di Provinsi Bali, baik dalam keadaan terawatt/dimanfaatkan sesuai  fungsinya atau tidak terwat/tidak dipakai sesuai fungsi, bergerak atau tidak bergerak, berupa kesatuan atau kalangan atau bab-bagiannya atau sisanya, yang dianggap memiliki nilai-nilai penting bagi ilmu wawasan, sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai signifikan yang lain, seperti yang diatur dalam perundang-seruan.
  • Pasal 1 ayat 11 Persyaratan Arsitektur adalah tolok ukur yang berkaitan dengan bentuk dan aksara tampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, dan keseimbangan/keselarasannya dengan lingkungan.
  • Pasal 1 ayat 12 Gaya arsitektur tradisional Bali ialah cora penampilan arsitektur yang mampu memperlihatkan citra/nuansa arsitektur berlandasan budaya bali yang dijiwai oleh agama Hindu melalui penerapan banyak sekali prinsi bentuk yang mengandung identitas maupun nilai-nilai arsitektur tradisional Bali.
  • Bab III Arsitektur Bangunan Gedung, Bagian Pertama, Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung Yang Akan Dibangun, Pasal 7 ayat (1) diterangkan Arsitektur bangunan gedung mesti menyanggupi tolok ukur : a. penampilan luar dan penampilan ruang dalam, b. keseimbangan, keselarasan, dan keterpaduan bangunan gedung dengan lingkungan, dan c. nilai-nilai luhur dan identitas budaya lokal, Pasal 7 ayat (2) Persyaratan penampilan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menerapkan norma-norma pembangunan tradisional dan/atau mengamati bentuk dan karakteristik Arsitektur Tradisional Bali yang berlaku biasa atau arsitektur dan lingkungan setempat yang khas di masing-masing Kabupaten/Kota.
  • Bagian Kedua Persyaratan Arsitektur Bangunan Tradisional Bali Pasal 8 ayat (1) Fungsi bangunan tradisional Bali dibedakan atas bangunan keagamaan, bangunan perumahan, dan bangunan sosial , Pasal 8 ayat (2) Pendirian bangunan tradisional harus mengikuti norma-norma bangunan tradisional Bali.
  • Pasal 9 dijelaskan Pembangunan bangunan keagamaan umat hindu di Bali menerapkan norma pembangunan tradisional Bali yang memuat ketentuan tentang bangunan keagamaan.
  • Pasal 10 dijelaskan Pembangunan bangunan rumah tradisional Bali menerapkan norma pembangunan tradisional Bali yang memuat ketentuan perihal bangunan rumah.
  • Pembangunan bangunan gedung tradisional fungsi sosial mesti memakai norma pembangunan tradisional Bali yang memuat ketentuan ihwal bangunan sosial .
  • Bagian Ketiga Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung Non Tradisional Bali, Pasal 13 ayat (1) diterangkan Arsitektur bangunan gedung non tradisional Bali harus dapat memperlihatkan gaya arsitektur tradisional Bali dengan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali yang selaras, sebanding, dan terpadu dengan lingkungan lokal, Pasal 13 ayat (2) Prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada lampiran yang ialah bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini, Pasal 13 ayat (3) Pembangunan bangunan gedung dengan fungsi khusus yang alasannya kekhususannya mustahil menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali, mampu memperlihatkan gaya arsitektur lain dengan kesepakatan Gubernur setelah menerima saran DPRD.
  • Bab IV Arsitektur Warisan, Pasal 17 ayat (1) Arsitektur warisan, baik yang berada di bawah kepemilikan dan/atau penguasaan oleh eksklusif, badan pemerintah dan non pemerintah mesti dilindungi dan dilestarikan, Pasal 17 (2) Setiap pemugaran dan/atau pengembangan arsitektur warisan mesti menaati prinsip-prinsip pelestarian baik dari sisi desain, bahan, maupun cara pembuatan, Pasal 17 (3) Pemanfaatan arsitektur warisan harus sesuai dengan fungsinya.
Demikian kiranya mengenai perda Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 wacana Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung yang dapat dijadikan acuan dalam merancang bangunan yang ada di tempat Bali.
Sumber https://www.arsitur.com/

Sabtu, 05 Desember 2020

Mengenal Arsitektur Bali Dan Keunikannya Secara Lengkap

Arsitektur Bali dan Perkembanganya

Arsitektur Bali lebih diketahui dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata ruang yang mewadahi kehidupan masyarakat Bali. Arsitektur Bali sejatinya sudah ada secara turun menurun sejak ratusan tahun silam sejak adanya masyarakatyang mendiami Pulau Bali.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Pura di Danau Bratan, Bali


Arsitektur bali meningkat dengan segala hukum-aturan transisional yang diwarisi dari zaman dahulu hingga kini. Jika kita melihat dari segi ilmu arsitektur, maka Arsitektur Bali termasuk gaya arsitektur tradisional vernakular. Hal ini sebab bangunan Arsitektur Bali didesain oleh masyarakat menurut kearifan setempat dengan menggunakan bahan-materi lokal tergolong untuk bab struktur, finishing dan hiasan.

Hubungan Arsitektur Bali dan Arsitektur Jawa Kuno

Arsitektur Bali ternyata sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu Bali dan efek Jawa kuno khususnya Majapahit. Banyak tipologi bangunan Arsitektur Bali yang mempunyai kesamaan dengan peninggalan kerajaan Hindu di Jawa. Hal ini mampu kita lihat pada arsitektur pintu gerbang adalah Candi Bentar yang sudah ada di Jawa mirip Gapura Waringin Lawang. Atau Kori Agung di Bali yang seperti dengan Candi Bajang Ratu. Makara mampu disimpulkan ada korelasi antara Arsitektur jawa antik dan Arsitektur yang meningkat di Bali.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Candi Bajang Ratu - waktuku.com


Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat dalam sejarah kerajaan Majapahit pernah melakukan ekspansi kawasan sampai ke Pulau Bali. Bali yang berhasil ditaklukan kemudian menerima bayak dampak dari Majapahit termasuk di bidang Aasitrektur. Selain itu, dalam sejarah juga disebutkan bahwa raja-raja Bali banyak yang ialah keturunan raja-raja kerajaan Hindu di Jawa.

Konsep Arsitektur Bali

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Konsep Tri Hita Karana di Bali

Filosofi rancangan arsitektur Bali berpusat pada tradisi Hindu Bali yang melandasi sebagian besar karya arsitektur di Bali. Ada perbedaan yang cukup banyak antara Arsitektur bali dengan arsitektur Hindu di India. Berikut yakni beberapa konsep penting dalam arsitektur Bali yang perlu dimengerti :
  • Tri Hata Karana - Tiga bentuk korelasi yang harmonis dan keseimbangan antara 3 unsur kehidupan, ialah terhadap Tuhan, sesama manusia dan terhadap alam semesta.
  • Tri Mandala - Tiga bagian zonasi sesuai fungsi dan prioritas.
  • Sanga Mandala - Sembilan Zona yang merupakan persilangan desain Tri Mandala
  • Tri Loka - Tiga tingkatan ruang yang dihubungkan dengan desain tiga alam yang berbeda
  • Tri Angga - Tiga bab bangunan yang harus ada dalam fasad, adalah kepala, badan dan kaki
  • Asta Kosala Kosali - Aturan merancang bangunan sesuai fungsi dan peruntukan, juga berisi ihwal penyeleksian bahan, perhitungan, ukuran, antropologi, dll
  • Manik Ring Cecupu - Konsep keserasian skala antara manusia selaku penghuni dan bangunan selaku wadah
  • Bah-Bangun - Konsep keseimbangan antara tinggi dan lebar atau dalam arsitektur terbaru kita kenal dengan ungkapan d/h.

Masyarakat Bali hidup dengan berlandaskan Tri Hita Karana yakni tiga penyebab kebahagiaan. Oleh kaena itu, orang Bali sangat percaya bahwa mereka hidup di dunia untuk menciptakan Hita (kebahagiaan) di bumi. Mereka selalu membangun relasi yang bagus terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan), kepada sesama insan dan terhadap alam semesta. Dengan membangun hubungan baik ke tiga arah ini, maka mampu menimbulkan kebahagiaan dan kemakmuran dalam hidup.

Tipologi Bangunan Arsitektur Bali

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Pura Besakih, Bali
Bangunan Arsitektur Bali yang paling ideal untuk dijadikan kriteria dalam mempelajari Arsitektur Bali yakni bangunan Pura. Pura ialah istilah untuk kuil kawasan persembahyangan di Bali. Arsitektur Pura di Bali mempunyai aturan yang sangat kompleks dan ketat, mulai dari penyeleksian lahan, pengukuran, penyeleksian materi, teknik pembuatan sampai pemilihan hari baik. Semua filosofi Arsitektur Bali dipraktekkan secara eksklusif pada Arsitektur Pura di Bali.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Rumah tradisional bali


Sementara dalam arsitektur rumah tinggal dan bangunan komunal, aturannya lebih longgar dan memiliki banyak alternatif. Bangunan fungsional dalam arsitektur Bali disebut dengan "Bale". Sementara lumbung kawasan menyimpan padi disebut dengan "jineng". Bangunan terbesar dalam arsitektur Bali adalah Wantilan, adalah suatu aula tempat berkumpulnya penduduk untuk berbagai acara, seperti rapat, pertunjukan seni tari dan jual beli. Wantilan umumnya terletak di setiap "Banjar" (Desa Adat) yang ada di Bali.

Pembagian Zonasi Rumah dalam Arsitektur Bali

Konsep Tri Hita Karana ini dipraktekkan di sebagian besar bidang kehidupan tergolong Arsitektur. Orang Bali percaya bahwa rumah mereka bukan cuma untuk daerah tinggal manusia, namun juga Sthana untuk Manifestasi Tuhan selaku Dewa-Dewi dan kawasan untuk hewan peliharaan dan berkembang-tumbuhan di taman. Harmoni tiga bagian ini yang menciptakan arsitektur bali selalu membagi rumah menjadi tiga bagian adalah :

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Zonasi Rumah Bali - komangputra.com

  • "Sanggah" atau "Merajan" merupakan area yang disucikan, terdapat Pelinggih (tugu) selaku kiblat sembahyang kehadapan Tuhan dan untuk menghormati para leluhur
  • "Bale" yakni istilah untuk bangunan fungsional daerah beraktivitas, terdapat 4 bale yaitu Bale Daja di Utara, Bale Dangin di Timur, Bale Delod di Selatan dan Bale Dauh di Barat.
  • "Natah" ialah ruang kosong di tengah rumah selaku daerah berkumpul, tempat membuat taman dan bak. Di belakang rumah lazimnya terdapat "Tebaa" yang ialah area untuk menempatkan binatang peliharaan.

Rumah Tradisional Bali bukan merupakan rumah dengan 1 bangunan kompleks mirip yang ada dalam rumah modern. Rumah Bali adalah rumah yang dipecah menjadi bangunan bale-bale mirip yang diterangkan di atas. Satu pekarangan rumah bisa berisi empat hingga enam bangunan utama sehingga rumah tradisional memerlukan lahan yang luas. Namun rumah tradisional lazimnya tidak dihuni oleh satu kepala keluarga, tetapi satu keluarga besar.

Ukuran dalam Arsitektur Bali

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Sikut ialah ukuran antropologis menurut ukuran tubuh kandidat pengguna rumah.

Arsitektur Bali tidak menggunakan ukuran meter mirip Arsitektur Modern yang berkembang saat ini. Aturan dalam Lontar "Asta Kosala Kosali" dan "Asta Bhumi" menampung sistem pengukuran menggunakan tata cara yang disebut "sikut". Sikut adalah ukuran antropologis menurut ukuran tubuh calon pengguna rumah.

Misalnya "a-lengkat" adalah ukuran antara ujung ibu jari dengan ujung telunjuk yang membuka lebar. "a-tapak ngandang" ialah ukuran lebar satu telapak kaki. Ukuran ini sudah dirumuskan secara turun temurun oleh leluhur orang Bali untuk membangun skala dan proporsi. Hasilnya adalah keindahan arsitektur yang mampu kita nikmati ketika mendatangi Pulau Bali.

"Sikut" yakni sebuah tata cara pengukuran antropologis tradisional di Bali. Sikut untuk menciptakan tiang lazimnya akan dicatat dalam "Gegulak" yaitu sebatang bambu yang diberi gejala ukuran yang mampu dipakai selaku persyaratan.

Struktur dalam Arsitektur Bali

Dalam Arsitektur Bali ada desain Tri Angga, adalah tiga bagian yang mesti ada pada bangunan ialah kepala, tubuh dan kaki. Jika diterjemahkan maksudnya yaitu tiga bagian struktur yakni Sub Structure (Kaki) yakni pondasi yang kuat menginjak bumi, Super Structure (Badan) ialah tiang/kolom yang tegak berdiri selaku komponen vertikal dan Upper Structure (Kepala) ialah Atap bangunan yang menaungi semua fungsi di bawahnya.

Dalam Arsitektur Bali, ketiganya mesti selaras dan sepadan secara skala dan proporsi. Perbandingan ukuran pondasi, tiang dan atap mesti seimbang dan terlihat proporsional. Selain itu Arsitektur Bali juga menuntut agar unsur kepala, badan dan kaki terlihat terang dalam bangunan.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Jineng Bali - baliwoodhouse


Arsitektur Bali secara original nyaris tidak ada yang bertingkat, kecuali untuk tipologi bangunan jineng daerah menyimpan padi. Jineng memakai ruang di bawah atap pelana yang cembung sebagai tempat menimpan padi, sementara, ruang di bawahnya dipakai sebagai daerah beraktivitas.

Dekorasi dalam Arsitektur Bali

Dalam Arsitektur Bali, terdapat berbagai macam ornamen yang sering kita lihat melekat pada bangunan terutama kawasan suci di Bali. Semua ornamen tersebut memiliki makna yang bekerjasama dengan tradisi Hindu Bali. Ornamen tersebut menggambarkan beraneka makhluk hidup yang ada di dunia beserta karakteristiknya yang diekspresikan melalui kreativitas seni orang bali sehingga tampakmengesankan.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Berbagai bentuk motif kekarangan Bali
 

Salah satu pernak-pernik yang sungguh sering kita lihat dalam arsitektur Bali yaitu penggunaan Murda atau mahkota atap. Murda ialah dekorasi yang bentuknya seperti mahkota yang diletakan di puncak atap limasan. Selanjutnya yakni ikut celedu yang diletakan di ujung bentang atap.

Arsitektur Bali di Zaman Modern

Banyak orang yang mengagumi khazanah Arsitektur Bali sebagai hasil karya asli Bangsa Indonesia dan sudah ditulis oleh banyak penliti maupun andal Arsitektur dari luar negeri.

Banyak bangunan Vila dan Hotel yang menerapkan desain Arsitektur Bali mirip pintu masuk berupa Kori, Angkul-angkul dan Candi Bentar atau bentuk bangunan Jineng yang dijadikan private Villa. Ada beberapa konsep yang masih dapat dipraktekkan dalam bangunan modern meskipun dengan fungsi yang berlawanan.

 Arsitektur Bali lebih dikenal dengan nama Arsitektur Bali dan bisa diartikan sebagai tata Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap
Jineng Villa Ubud


Meskipun demikian, perkembangan penduduk dan dampak arsitektur modern tetap menjadi ancaman bagi kelestarian Arsitektur Bali. Banyak orang masih salah paham dengan eksistensi rancangan Arsitektur Bali sehingga perlu diluruskan.

Pemerintah di Bali sudah berupaya melindungi kekayaan Arsitektur Bali dengan menciptakan peraturan teknis membangun bangunan di Bali. Salah satunya yaitu menerapkan bentuk atap segitiga dan menghalangi ketinggian bangunan.

Demikianlah tentang Arsitektur Bali dan Keunikannya yang mendunia. Arsitektur Bali sejatinya yaitu konsep yang kaya makna, sementara bagian tampilannya ialah mulut dari kreativitas lokal dalam menerjemahkan rancangan dan makna yang ada pada Arsitektur Bali.


Baca Juga :

Referensi :

  • Dikutip dari Catatan Kuliah Arsitektur Bali, Universitas Udayana, 2015.

Sumber https://www.arsitur.com/

Rabu, 02 Desember 2020

6 Taman Wisata Dan Hiburan Di Bali Dengan Harga Murah 2019

Punya rencana piknik ke Bali ? Ingin tau daerah rekreasi jalan-jalan murah di Bali ? Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi Anda yang akan berwisata ke Bali dalam waktu dekat.

01. Kebun Raya Bedugul, Tabanan, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019
01. Kebun Raya Bedugul, Tabanan, Bali

Kebun raya bedugul ialah kawasan untuk berwisata, berekreasi, bersantai, piknik dan juga untuk kemah. Kebun raya bedugul terletak di Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali. Daya tarik objek rekreasi Kebun Raya Bedugul adalah pada keindahan panorama alam daerah pegunungan, dan panorama danau alami. Wisatawan bisa merasakan asrinya suasana perbukitan sembari berekreasi, bersantai atau beristrirahat. Ada banyak kemudahan rekreasi yang berkembang dan pada animo piknik selalu ramai dikunjungi turis aneh dan domestik.

Untuk menuju Kebun Raya Bedugul Bali, dapat ditempuh melalui kendaraan selama satu setengah jam dari Denpasar, atau sekitar 55 km ke arah utara Denpasar menuju Singaraja. Jika dari Singaraja maka jarak yang ditempuh sekitar 30 km ke arah selatan menuju Denpasar, menempuh waktu kira-kira 45 menit dengan kendaraan.

Tiket Masuk Kebun Raya Bedugul untuk Pengunjung Domestik Rp. 9.000, Tiket Kendaraan Roda 4 Keliling Kebun : Rp. 11.000, Tiket Parkir Kendaraan Roda 2 (Motor, Sepeda, dll) : Rp. 3.000, TIket Parkir Kendaraan Roda 4 : Rp. 6.000, Tiket Parkir Kendaraan Roda 6 (Bus, Truk, dll) : Rp. 11.000, Tiket masuk sudah tergolong Asuransi Jasa Raharja Distribusi Pemkot.

02. Taman Ujung, Karangasem, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019
02. Taman Ujung, Karangasem, Bali

Taman Ujung atau diketahui juga dengan Taman Sukasada, yakni suatu taman wisata dan liburan kawasan untuk rekreasi rekreasi, berfoto, swa foto, piknik atau berkeliling sambil menkmati fasilitas peninggalan kolonial. Taman Ujung ini berlokasi di banjar Ujung, desa Tumbu, Karangasem, Bali. Ada kolam besar tempat berekreasi, museum dan taman yang luas untuk bermalas-malasan.

Taman ini terletak sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Amlapura. Menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Denpasar dengan mengunakan kendaraan. Pada zaman Hindia Belanda, daerah ini dikenal dengan nama Waterpaleis atau "istana air". Taman ini selalu ramai dikunjungi saat animo piknik oleh pelancong.

Harga Tiket masuk Taman Ujung untuk hadirin domestik Rp. 10.000, Tersedia parkir roda dua dengan harga Rp. 2.000, Parkir Roda empat sekitar Rp. 5.000. Harga ini telah termasuk murah namun belum tergolong untuk menyewa akomodasi lainnya di dalam.

03. Taman Ayun, Menguwi, Badung, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019
03. Taman Ayun, Menguwi, Badung, Bali

Taman ayun yakni salah satu tempat untuk rekreasi arsitektur di Bali dengan harga yang relatif murah. Unesco pada tahun 2012 menetapkan Pura Taman Ayun sebagai bagian dari situs wariwan budaya dunia. Situs bertajuk resmi Lanskap Budaya Provinsi Bali. Di daerah ini pengunjung mampu melakukan wisata, piknik, memancing, dan berpangku tangan sambil menikmatik keindahan arsitektur dan lanskap taman.

Taman Ayun berada di Jl. Ayodya No.10, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali 80351, Sekitar 45 menit dari denpasar dengan memakai kendaraan. Disini kita bisa menyaksikan bangunan Meru yang legendaris. Meru adalah salah satu bangunan daerah persembahyangan Umat Hindu di Bali dan tidak bisa dibangun asal pilih.

Harga Tiket masuk Taman Ayun untuk hadirin domestik cukup umur yaitu Rp. 10.000, Tersedia parkir roda dua dengan harga Rp. 2.000, Parkir Roda empat sekitar Rp. 5.000. Harga ini merupakan harga yang murah untuk kawasan wisata di Bali.

04. Taman Nasional Bali Barat, Singaraja, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019

04. Taman Nasional Bali Barat, Singaraja, Bali


Taman Nasional Bali Barat atau disingkat TNBB ialah taman rekreasi dan hiburan, tempat untuk berwisata, berlibur, piknik, berpangku tangan, berlangsung-jalan dan menikmati panorama serta menyaksikan kehidupan satwa langka yang dilindungi. Taman Nasional Bali Barat buka mulai jam 08.00 dan tutup pada jam 18.00.

Taman Nasional Bali Barat terletak di di Jl.Raya Cekik Gilimanuk, Jembrana , Bali 82253. Lokasinya memang cukup jauh, sekitar 3 jam dari Denpasar, tetapi hanya sekitar 1,5 jam dari Singaraja. Taman Nasional Bali Barat juga akrab kalau dijangkau dari pelabuhan Gilimanuk.

Hari biasa, harga tiket masuk Taman Nasional Bali Barat yaitu Rp. 10.000 untuk pengunjung domestik. Harga ini telah termasuk murah untuk mendatangi kawasan rekreasi sekaligus melihat kehidupan satwa langka dan menikmati indahnya bahari dengan ombak kecil sepoi-sepoi.

05. Taman Mangrove, Pemogan, Denpasar, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019
05. Taman Mangrove, Pemogan, Denpasar, Bali

Taman Mangrove Bali yakni taman rekreasi dan hiburan, daerah berwisata yang sedikit berbeda alasannya dikelilingi oleh hutan mangrove yang rimbun di atas permukaan air. Taman ini menawarkan sensasi berlawanan selaku referensi piknik. Kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling taman ini atau melihat indahnya kawasan ini melalui menara.

Taman Mangrove Bali terletak di Pemogan, Denpasar Sel, Kota Denpasar, Bali 80361. Sekitar 25 menit dari Bandara Ngurah Rai, Tuban, Bali. Taman mangrove ini senantiasa ramai dikunjungi turis domestik dan asing dikala musim piknik.

Harga tiket masuk Taman Mangrove Bali ialah Rp. 10.000 untuk perorangan, Rp. 6.000 untuk rombongan turis. Harga ini sudah tergolong sangat murah untuk kawasan rekreasi di Bali. Selain itu, lokasi ini juga mampu disewa untuk prawedding dengan harga Rp. 500.000, untuk shooting film sekitar Rp. 1.000.000.

06. Taman Edelweis, Temukus, Karangasem, Bali

 Pilihan taman rekreasi dan hiburan berikut mungkin bisa menjadi solusi alternatif bagi An 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah 2019
06. Taman Edelweis, Temukus, Karangasem, Bali

Taman Edelweis Bali yaitu taman yang difokuskan untuk taman rekreasi dan hiburan dimana hadirin bisa menikmati bunga Edelweis yang legendaris di sini. Selain itu, taman ini juga ditata sedemikian rupa sehingga sungguh mempesona untuk berswafoto, piknik, rekreasi dan berkeliling taman.

Taman ini terletak di Banjar Dinas Temukus, Desa Besakih, Kab. Karangasem. Sekitar 2,5 jam dari Denpasar dan sekitar 1 jam dari kota Karangasem jikalau ditempuh dengan kendaraan. Taman ini merupakan salah satu wisata desa yang dapat dinikmati secara humanis oleh turis. Masyarakat secara swadaya, bahu-membahu membangun Taman Edelweis Bali semoga bunga Edelweiss yang legendaris ini mampu dirasakan kapan saja tanpa harus naik gunung.

Harga tiket masuk Taman Edelweis Bali Rp 10.000/orang, Sementara parkir kendaraan beroda empat Rp 5.000/mobil dan Rp 2.000/sepeda motor. Harga ini telah tergolong harga yang sungguh murah untuk bisa menikmati keindahan bunga Edelweis secara langsung.

Demikian mengenai 6 Taman Rekreasi dan Hiburan di Bali dengan Harga Murah. Berlibur di Bali sejatinya tidak mahal kalau mengetahui tempat yang tepat yang sesuai dengan tujuan Anda ialah berwisata. Semoga mampu menjadi rujukan rekreasi Anda jika ingin pergi ke Bali.



Sumber https://www.arsitur.com/

Senin, 14 September 2020

Langgam Arsitektur Tradisional Bali

Bali tidak hanya terkenal alasannya adalah daya tarik alam dan budaya adatnya, tetapi Bali juga mempunyai peninggalan warisan arsitektur tradisional yang melegenda, yang mewadahi setiap aktivitas budaya di Bali. Arsitek ini akan membicarakan Langgam Arsitektur Tradisional Bali dan filosofinya.

Definisi Arsitektur Tradisional Bali :

Bale Dangin, salah satu wujud arsitektur tradisional Bali asli

Arsitektur Tradisional Bali adalah sebuah langgam arsitektur tradisional yang lahir di atas landasan rancangan spiritual Hindu di lingkungan adat istiadat di Bali, hampir satu milenium telah mampu mengemban fungsi sebagai wadah kehidupan dan penghidupan masyarakat Bali.

Arsitektur Bali diketahui dunia luar yakni karena keunikannya. Unik tidaklah harus memiliki arti lebih baik dibandingkan dengan lainnya. Dalam evaluasi unik acap kali sesuatu maksud bahwa Bali lain dari pada yang lain. Bali mempunyai nilai-nilai khusus yang didaerah lain tidak dijumpai hal tersebut.

Sejatinya, arsitektur Bali terbagi menjadi 2, yaitu Arsitektur Tradisional Bali dan Arsitektur Bali Kekinian (Kontemporer). Arsitektur tradisional Bali merupakan arsitektur Bali yang original berdasarkan pada asta kosala-kosali meliputi bangunan pemukiman dan ibadah. Sedangkan Arsitektur Bali Kontemporer ialah Arsitektur Bali yang lebih banyak dipraktekkan ekspresinya (tampilan luar) tanpa mempertimbangkan dari segi desain maupun filosofinya.

Baca Juga : Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap

 

Filosofi Arsitektur Tradisional Bali :

Kantor DPRD Buleleng berarsitektur Bali, bentuk penerapan arsitektur Bali di era sekarang

Filosofi arsitektur Bali mengacu pada konsep keseimbangan dengan Sang Pencipta, sesama manusia dan kepada alam semesta. sehingga dalam pambangunan tradisional juga terdapat ritual penghormatan terhadap Sang Pencipta, penghormatan terhadap alam dan syukuran pada sesama.

Gaya Arsitektur Bali yang banyak ditirukan oleh arsitek era sekarang merupakan penerapan Arsitektur Bali Kontemporer. Yang dipraktekkan hanya pada ekspresinya saja, meliputi bentuk geometri, ragam hias, material serta furniture. Namun tidak menggunakan desain orisinil mirip asta kosala kosali dan asta bhumi.

Baca Juga : Unsur-komponen Tampilan Arsitektur Bali

Dari segi penampilan, arsitektur Bali juga memiliki hukum yang menjadi landasan memperlihatkan gaya arsitektur Bali. Aturan yang dimaksud ialah menginterpretasikan bagian-bagian badan manusia pada unsur bangunan lewat konsep Tri Angga. Konsep Tri Angga brarti tiga bagian tubuh, yaitu kepala, badan dan kaki. Konsep lainnya adalah Hulu Teben, Tri Mandala, Tri Hita Karana dan Manik Ring Cucupu.

Dalam wujud arsitektur Bali, yang dimaksud kepala ialah atap, badan merupakan super struktur sedangkan kaki memiliki arti pondasi dan batur (leveling lantai). Dalam penerapan arsitektur Bali Kontemporer, hal ini masih bisa dipraktekkan sebab bab-bab tersebut masih ada dalam bangunan modern walapun dengan fungsi yang berlawanan.

Arsitektur Bali yakni jenis arsitektur tradisional turun temurun yang dikembangkan dari cara hidup orang Bali, organisasi spasial mereka, korelasi sosial berbasis komunal mereka, serta filosofi dan spiritualitas yang mensugesti desainnya. Arsitektur tradisional Bali banyak berpedoman terhadap rancangan Hindu Bali.

Arsitektur tradisional Bali, menganut hukum bangunan yang ketat dan sakral, memungkinkan banyak ruang terbuka dan berisikan halaman luas dengan banyak paviliun kecil, dikelilingi oleh tembok penyengker (pagar) sebagai batas kawasan (batas site). Dasar filosofis dan konseptual yang menggarisbawahi pertumbuhan arsitektur tradisional Bali meliputi beberapa desain seperti berikut :
  • Tri Hita Karana: konsep harmoni dan keseimbangan berisikan tiga elemen; atma (manusia), angga (alam), dan khaya (tuhan). Tri Hita Karana meresepkan tiga cara yang mesti dilaksanakan insan untuk memelihara relasi yang harmonis dengan; sesama manusia, alam, dan Tuhan.
  • Tri Mandala: hukum pembagian ruang dan zonasi. Tri Mandala yakni rancangan spasial yang menggambarkan tiga bab dari dunia, dari Nista Mandala - dunia luar dan dunia yang kurang suci, Madya Mandala - dunia menengah menengah, hingga Utama Mandala - alam suci yang lebih dalam dan paling penting.
  • Sanga Mandala: juga hukum pembagian ruang dan zonasi. Sanga Mandala adalah rancangan spasial perihal arah yang membagi sebuah daerah menjadi sembilan bab menurut delapan arah mata angin utama dan sentra (zenith). Sembilan arah mata angin ini terhubung dengan rancangan Hindu wacana Penjaga arah, Dewata Nawa Sanga atau sembilan dewa penjaga arah yang timbul dalam lambang Majapahit Surya Majapahit. Mereka; Pusat: Shiva, Timur: Isvara, Barat: Mahadeva, Utara: Wisnu, Selatan: Brahma, Timur Laut: Sambhu, Barat Laut: Sangkara, Tenggara: Mahesora, dan Barat Daya: Rudra.
  • Tri Angga: konsepsi hierarki dari mikrokosmos, ranah menengah, dan makrokosmos. Ini juga terhubung ke desain tri loka selanjutnya. [2]
  • Tri Loka: juga konsepsi hierarki antara tiga alam bhur (bahasa Sansekerta: bhurloka) alam hewan dan setan yang lebih rendah, bhuwah (bahasa Sansekerta: bhuvarloka) alam tengah manusia, dan swah (Sansekerta: svarloka) alam yang kuasa dan yang kuasa tertinggi.
  • Asta Kosala Kosali: delapan pemikiran untuk desain arsitektur, yang meliputi bentuk niyasa (simbol) dalam pelinggih (kuil), pepalih (tahapan), unit pengukuran, bentuk dan ukurannya, juga menentukan dekorasi yang tepat.
  • Arga Segara atau Kaja Kelod: sumbu sakral antara. arga atau kaja (gunung) dan segara atau kelod (maritim). Wilayah gunung dianggap selaku parahyangan, kawasan tinggal hyang atau dewa, dataran tengah di antaranya yaitu dunia insan, dan bahari sebagai dunia monster maritim dan setan.

Selain penguasaan artistik dan teknis, semua arsitek Bali (Bali: Undagi) dituntut untuk menguasai konsep-konsep filosofis Bali perihal bentuk, arsitektur, dan organisasi spasial.

Demikianlah tentang Langgam Arsitektur Tradisional Bali, biar bermanfaat dan dapat memperbesar pengetahuan.

Sumber https://www.arsitur.com/