Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2021

Persoalan Pada Permukiman Dan Prumahan Di Indonesia

Dan menjadi tidak nyamanjika berbicara mengenai persoalan permukiman dan perumahan di Indonesia maka akan berlanjut pada duduk perkara-masalah lainnya mirip kelembagaan,  tata ruang,  lingkungan dan lain sebagainya.

Kasus Permukiman Kumuh di Indonesia


Nah menurut aneka macam sumber yang saya baca ada beberapa masalah lazim dalam bidang Perumahan dan pemukiman di Indonesia dikala ini :

 

1.  Penyelenggaraan Perumahan dan pemukiman belum tertata secara sistematis

 

A. Pembangunan Perumahan dan pemukiman di Indonesia belum terselenggara dengan baik pada tingkat sentra, kawasan, maupun lokal.  Hal ini mampu dilihat dari sumber daya manusia,  organisasi,  tatalaksana  maupun bantuan fasilitas dan prasarana.


B. Pelayanan  dan jalan masuk terhadap hak atas tanah untuk perumahan terutama untuk masyarakat menengah ke bawah masih terasa sangat sulit.  Selain itu zonasi dalam RTRW masih kurang terperinci batas-batasnya.


C. Kapasitas pemerintah tempat Sebagai penyelenggara Perumahan dan pemukiman bagi penduduk masih terbatas untuk mengelola manajemen Pertanahan yang memadai.


D. Status akan kepemilikan tanah di Indonesia juga kadang-kadang masih tumpang tindih akhir banyaknya pelanggaran yang dikerjakan oleh oknum tertentu.


E.  Pasar perumahan yang belum efisien,  hal ini diakibatkan belum adanya standarisasi dokumen KPR  sehingga harga rumah relatif mahal untuk golongan menengah ke bawah.

 

2.  Tingkat pemenuhan keperluan perumahan yang rendah



A.  Kebutuhan Perumahan untuk masyarakat di Indonesia sangatlah tinggi.  Namun untuk memenuhi kebutuhan akan rumah yang layak dan terjangkau masih belum mampu dipenuhi alasannya adalah terbatasnya kesanggupan penyediaan oleh penduduk dan pemerintah.


B. Masyarakat dengan penghasilan rendah sungguh susah untuk menerima rumah yang pantas dan sesuai dengan standar lingkungan pemukiman yang sehat, kondusif, serasi dan berkelanjutan.


C.  Terbatasnya saluran terhadap sumber daya kunci termasuk info yang berkaitan dengan Pertanahan dan pembiayaan rumah bagi masyarakat.


D.  Belum tersedia tunjangan dana jangka panjang untuk pembiayaan rumah sehingga kepemilikan rumah menjadi semakin sukar.  Subsidi untuk perumahan bagi kelompok penduduk kurang bisa sungguh diharapkan.


E.  Kurangnya mobilisasi sumber sumber pembiayaan perumahan dan kurangnya akses terhadap kredit Perumahan yang menjadikan info tidak hingga kepada penduduk yang membutuhkan.

 

3.  Kualitas lingkungan pemukiman yang cenderung menurun

 

A.  Pembangunan kawasan permukiman dan perumahan di Indonesia belum diimbangi dengan pembangunan prasarana  penunjang yang memadai. Misalnya kurangnya ruang terbuka hijau,  lapangan untuk olahraga dan rekreasi,  daerah usaha maupun fasilitas sosial yang lain.


B. Masih banyak tempat permukiman di Indonesia yang secara fisik telah melebihi daya tampung lingkungan itu sendiri.  Banyak pemukiman yang tumbuh menjadi pemukiman padat penduduk dan menjadi tidak nyaman.


C.  Pembangunan perumahan yang tidak mengamati pengaruh lingkungan sehingga terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang berakibat pada lingkungan itu sendiri.  Hal ini mampu menjadi ancaman bagi keragaman hayati di sekitarnya.


D.  Jika dilihat dari non fisik maka pembangunan yang tidak memperhatikan efek lingkungan sosial dapat meningkatkan resiko kesenjangan sosial yang berujung pada meningkatnya tindak pidana.


E. Pembangunan lingkungan di Indonesia masih banyak belum mengamati imbas visual.  Jika dilihat secara arsitektural  rumah-rumah di Indonesia mulai kehilangan jati dirinya.  Tidak adanya kode yang spesifik menciptakan arsitektur rumah-rumah di Indonesia mulai tidak terorganisir dan kurang memperhatikan nilai kontekstual serta sosial budaya lokal.


Demikian perihal duduk perkara permukiman dan perumahan di Indonesia jikalau dilihat dari segi penataan kawasan.  Dengan mengenali hal ini agar kebijakan pemerintah lebih terarah dalam menata lingkungan hidup di Indonesia.

Credits :


 

Sumber https://www.arsitur.com/

Minggu, 14 Februari 2021

Jalan Tol Khusus Motor Di Tol Bali Mandara

Bali memiliki Jalan tol di atas bahari dengan nama Jalan Tol Bali Mandara. Jalan tol ini mempunyai jalur khusus untuk kendaraan roda dua atau sepeda motor. Jalan tol khusus sepeda motor ini memungkinkan kendaraan roda dua melintas di tol sepanjang 12,7 km ini.

Sejarah Pembangunan Jalan Tol Bali Mandara

Bali yang ialah daerah tujuan wisata mempunyai tingkat kepadatan kendaraan yang terus berkembangsetiap tahunnya. Baik sepeda motor ataupun mobil makin meramaikan jalan-jalan yang ada di Bali.

Meskipun mempunyai jalur by pass yang melingkari pulau Bali, namun jalan tersebut nyatanya belum bisa mengurai kemacetan kemudian lintas yang terjadi. Terutama untuk tempat Bali Selatan seperti Bandara Tuban, Nusa Dua dan Kuta. Dengan demikian pemerintah daerah Bali bekerja sama dengan pemerintah pusat mengupayakan untuk membangun jalan tol yang menghubungkan titik-titik penting demi mengurai kemacetan.

Jalan Tol ini ialah proyek jalan tol pertama yang ada di Pulau Bali. Jalan Tol ini dibuat untuk menghubungkan Pelabuhan Benoa, Bandara Internasional Ngurah Rai dan objek rekreasi Nusa Dua. Jalan Tol ini dibangun diatas maritim di teluk Benoa melayang di atas permukaan maritim.

Waktu Pembangunan Jalan Tol Bali Mandara

Jalan tol Bali Mandara pembangunannya dimulai sekitar bulan Maret 2012 dan final sekitar bulan Mei 2013. Terhitung sangat cepat untuk pengerjaan tol di atas bahari Bali. Hal ini juga didukung sebab tidak banyak lahan yang harus dibebaskan, sebagian besar ruas jalan tol ini menggantung di atas maritim. Namun, ada beberapa lahan mangrove yang harus dikorbankan pada abad konstruksi, meski demikian sebanyak 16.000 pohon mangrove di tanam kembali setelah konstruksi jalan tol tamat.

Biaya Pembangunan Jalan Tol Bali Mandara

Jalan Tol ini dibentuk dengan menggunakan nyaris 100% bahan-materi dan teknologi dari Indonesia. Konstruksi jalan tol ini dibangun oleh koordinasi antara BUMN dan BUMD Bali. Proyek jalan tol yang menghabiskan dana sampai 2,4 trilyun ini dibiayai oleh sindikasi bank BUMN dan Jasa Marga. Proyek ini tidak melibatkan APBN sama sekali.

Rute Jalan Tol Bali Mandara

Jalan tol Bali Mandara menghubungkan 3 titik vital yang mempunyai tingkat kemacetan tinggi yaitu By Pass Ngurah Rai Tuban, Benoa dan Nusa Dua. Rute tersebut ialah titik yang dinilai paling macet di Bali.

Rute Bandara merupakan rute vital untuk keberangkatan dan kedatangan wisatawan gila maupun domestik yang berkunjung ke Bali. Bali tentu tak mau pariwisatanya terganggu oleh kemacetan.

Rute Nusa Dua juga merupakan objek pariwisata yang sangat penting yang dipenuhi turis mancanegara setiap harinya. Rute nusa dua juga hanya mampu diraih lewat jalan by pass dan tidak ada jalan lain sehingga kemacetan begitu parah. Selain ada objek wisata, di daerah jimbaran juga terdapat kawasan kampus UNUD sehingga adanya jalan tol juga sungguh memudahkan mahasiswa dan dosen.

Jalur Tol Sepeda Motor di Bali

Bali memiliki Jalan tol di atas laut dengan nama Jalan Tol Bali Mandara Jalan Tol Khusus Motor di Tol Bali Mandara
Jalan Tol Khusus Motor di Tol Bali Mandara

Jalan tol di Bali punya 2 pembagian berdasarkan jenis kendaraan adalah kendaraan beroda empat (roda 4) dan sepeda motor (roda 2). Bali mungkin menjadi salah satu dari sedikit kawasan di Indonesia yang mempunyai jalan tol khusus sepeda motor. Alasan dibuatnya jalur khusus sepeda motor di Bali karena tingkat penggunaan sepeda motor yang begitu tinggi.

Ruas jalan tol khusus sepeda motor di Bali dibuat dengan lebar lebih kecil dan satu arah. Lebar jalan tol khusus motor ini hanya mampu menampung 2 lajur sepeda motor pada dikala berbarengan. Pengendara masih mungkin untuk menyalip kendaraan lain ketika berada di tol.

Tarif Jalan Tol di Bali

Berikut ialah tarif jalan tol Bali Mandara (harga dapat berganti sewaktu-waktu) :
GOLONGAN TARIF TOL JENIS KENDARAAN
I 11.500 sedan, jip, pick up, truk kecil dan bus
II 17.500 truk dengan dua gandar
III 23.500 Truk dengan tiga gandar
IV 29.000 truk dengan empat gandar
V 35.000 truk dengan lima gandar
VI 4.500 Motor roda dua


Nah demikianlah tentang jalan tol khusus sepeda motor di Bali. Semoga berguna dan dapat memperbesar wawasan.


Sumber https://www.arsitur.com/

Sabtu, 13 Februari 2021

Jembatan Suramadu, Penghubung Antara Surabaya Dan Madura

Jembatan Nasional Suramadu yaitu jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan) dengan melintasi Selat Madura. jembatan sepanjang 5.438 m ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia hingga dikala ini.

Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa  Jembatan Suramadu, Penghubung antara Surabaya dan Madura
Jembatan Suramadu, Penghubung antara Surabaya dan Madura


Nama jembatan ini diambil dari kata Surabaya dan Madura yang digabung menjadi Suramadu. Nama jembatan ini cukup unik alasannya adalah pribadi mampu mewakili Kota Surabaya dan Madura.

Pembangunan jembatan ini sudah dimulai pada 20 Agustus 2003 dan groundbreaking dijalankan oleh Presiden Megawati. Pembangunan dilanjutkan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009.

Pembangunan jembatan ini bertujuan untuk mempermudah pembangunan di Pulau Madura. Hal ini juga akan mendorong infrastruktur dan ekonomi di Madura yang relatif tertinggal dibandingkan daerah lain di Provinsi Jawa Timur. Biaya pembangunan jembatan ini diperkirakan mencapai 4,5 triliun rupiah.

Sebagai jembatan yang panjang, sehingga membutuhkan dilatasi. Jembatan Suramadu terbagi atas tiga bagian ialah jalan layang (causeway), jembatan utama (main bridge) dan jembatan penghubung (approach bridge).

Pembuatan jembatan ini dijalankan dari tiga sisi. Yang pertama ialah segi Bangkalan (Madura) dan yang kedua adalah segi Surabaya (Jawa). Namun juga dilaksanakan pembangunan bentang tengah bahari yang berisikan main bridge dan approach bridge.

Jembatan Suramadu memiliki panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menampung empat lajur dua arah dengan lebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat dengan lebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menawarkan lajur khusus untuk pengendara sepeda motor pada setiap sisi luar jembatan.

Fasilitas Penunjang Jambatan Suramadu

Agar jembatan mampu beroperasi secara optimal, pada jembatan ini juga dibangun beberapa akomodasi yang lain selaku berikut.

Jalan layang

Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan Suramadu dengan jalan darat lewat perairan dangkal yang ada di kedua sisi jembatan. Jalan layang ini tersusun dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada segi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada segi Madura.

Jalan layang ini memakai metode konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter untuk setiap bentangnya. Sistem pondasinya menggunakan pipa baja berdiameter 60 cm.

Jembatan penghubung

Jembatan penghubung atau approach bridge dibuat untuk  menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan penghubung ini terdiri atas dua bab yang masing-masing panjangnya 672 meter.

Jembatan ini memakai konstruksi penyangga beton yang memiliki panjang 80 meter setiap bentangnya dengan 7 bentang tiap sisi. Pondasi penopang jembatan memiliki diameter 180 cm.

Jembatan utama

Jembatan utama atau main bridge pada jembatan Suramadu berisikan atas bab ialah dua bentang samping sepanjang 192 meter serta satu bentang utama sepanjang 434 meter.

Jembatan utama dibentuk dengan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Struktur lantai jembatan memakai metode konstruksi komposit setebal 2,4 meter.

Agar kapal bahari masih tetap bisa melintasi Selat Madura, jembatan ini dibuat setinggi 35 meter dari permukaan maritim. Tinggi tersebut telah cukup untuk meloloskan suatu kapal ferry.

Dampak pembangunan jembatan Suramadu

Dengan dibangunnya jembatan ini, maka diharapkan keuntungannya sebagai berikut :

  • Pembangunan lebih merata di wilayah Provinsi Jawa Timur terutama di Madura
  • Pemerataan Pendapatan warga Madura
  • Kemudahan Akses infrastruktur dan fasilitas ekonomi lainnya
  • Menekan laju urbanisasi dari Madura ke Surabaya
  • Membuka lapangan pekerjaan


Demikianlah perihal Jembatan Suramadu, biar bermanfaat dan memperbesar wawasan.

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Nasional_Suramadu
Sumber https://www.arsitur.com/

Rabu, 20 Januari 2021

Kemajuan Arsitektur Art Deco Di Indonesia Dan Misalnya

Dikutip dari Johana (2004 dalam Solikhah, 2017), Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen bersejarah, gaya ini juga menerima efek ajaran arsitektur yang berkembang pada ketika itu, ialah: Bauhaus, De Stijl, Dutch Expressionism, International Gaya, Rasionalisme, Romantisisme dan Neoklasikisme Skandinavia, Gerakan Seni dan Kerajinan, Art Nouveau, Jugendstil, dan Wina.

 Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen bersejarah Perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia dan Contohnya
Gedung Isola - Arsitektur Art Deco di Indonesia dan Contohnya img by Quora


Gaya-gaya dan ajaran tersebut juga mempengaruhi pembentukan arsitektur Art Deco dan memberikan sentuhan modern. Modern pada waktu itu didefinisikan selaku "berani menjadi berbeda dan gres, tampil lebih menarik ketimbang lainnya dan tidak kuno" yang semuanya dimanifestasikan oleh pilihan warna yang menonjol , proporsi yang tidak biasa, bahan gres dan hiasan.

 Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen bersejarah Perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia dan Contohnya
Stasiun Solo Jebres - bppd-surakarta.id

Pada permulaan kala ke-21 gaya Art Deco meraih popularitas yang tak tertandingi sejak diresmikan pada tahun 1925, Pameran Internasional Seni Rupa Decoratifs dan Industriels Modernes di Paris (Tinniswood, 2002).

Sejak itu nama Art Deco dipakai untuk seni Ternama yang populer dan terbaru. Kemunculan ungkapan itu dalam beberapa artikel semakin membuat nama Art Deco menjadi kawasan di dunia seni dengan penerbitan buku "Art Deco" oleh Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969.

Art Deco adalah salah satu gaya yang diterapkan secara luas, banyak sekali contoh mampu kita dapatkan, dalam Arsitektur, pakaian, poster dan peralatan rumah tangga serta banyak contoh lainnya. Meski ada bermacam-macam objek yang memakai gaya Art Deco, namun tidak gampang mendefinisikan bagaimana gaya Art Deco.

Tema-tema terkenal dalam Art Deco yaitu trapesium, zig-zag, geometris, dan bentuk puzzle, ornamen yang dipakai lebih teratur dan memakai banyak garis atau kotak. Setiap negara yang mendapatkan gaya Art Deco berkembang dengan sendirinya, menunjukkan sentuhan lokal sehingga Art Deco di sebuah kawasan akan berlainan dari Art Deco di kawasan lain (Johana, 2004 dalam Solikhah, 2017).

Dikutip dari Nas (2009), Bangunan Art Deco di Indonesia lebih diketahui sebagai bangunan Hindia (Indische Landhuizen) alasannya memiliki bagian budaya dan iklim di Indonesia.  Suryokusumo dan Suryasari (dalam Indartoyo, 2008) menyimpulkan bahwa sebagai awal pertumbuhan Arsitektur Kolonial di Indonesia adalah Arsitektur Hindia.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan penampilan Arsitektur Nuew Bouwen, di mana gaya arsitektur yang berkembang yaitu gaya arsitektur terbaru, termasuk gaya Art Deco di dalamnya.

 Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen bersejarah Perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia dan Contohnya
Stasiun Solo Jebres - img by panduanwisata.id

Solo Jebres adalah salah satu stasiun kereta api yang berada di tempat Purwadiningratan, Jebres, Surakarta. Stasiun ini dahulunya dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1884. Saat ini Stasiun Jebres dinobatkan selaku salah satu bangunan heritage dan cagar budaya sehingga bangunan ini dihentikan dipugar oleh pemerintah lokal. Stasiun Solo Jebres sekarang ini masih difungsikan untuk pemberhentian kereta ekonomi.

Karakteristik Gaya arsitektur stasiun ini merupakan pola dari adopsi gaya Art Deco yang diterapkan dengan memadukannya bersama arsitektur Tropis Indonesia. Stasiun ini menjadi salah satu bukti bersejarah penyebaran gaya arsitektur Art Deco di Indonesia.

Referensi :
  • http://panduanwisata.id/2015/08/29/stasiun-dengan-gaya-arsitektur-art-deco-di-indonesia/
  • Solikhah, N., & Kurnia, A. S. (2017). Development of Art Deco Architecture in Indonesia,
  • Proceeding of The 3rd International Conference on Engineering of Tarumanagara (ICET) 2017, Faculty of Engineering, Tarumanagara University, Jakarta-Indonesia, October 4-5th, 2017.
  • Tinniswood, A. (2002). The Art Deco House. Octopus Publishing Group Ltd., London.
  • Nas, P. J.M., & Vletter, M. (2009). Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Indartoyo (2008), Penampilan Bangunan Art Deco yang Dibangun di Indonesia Tahun 1920-1940

Sumber https://www.arsitur.com/

Dampak Gaya Arsitektur Majapahit Di Bali

Masuknya Arsitektur Majapahit di Bali

Pada massa sebelum kedatangan Majapahit, seluruh masyarakatBali ketika itu disebut dengan Bali Asli. Barulah sekitar tahun 158 Masehi datanglah Maharesi Markendhya (sekte Waisnawa) ke Bali dan membuatkan anutan Hindu di Bali.

Kemudian penduduk yang tiba bareng dengan Maharesi Markandya disebut dengan Bali Jawa. Maharesi lalu lebih banyak datang ke gunung-gunung sehingga masyarakat Bali Jawa yang ada di gunung waktu itu disebut dengan penduduk Bali Aga , alasannya Aga ternyata mempunyai arti gunung.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Candi Bajang Ratu - waktuku.com

Kemudian pada Tahun 1343, terjadi korelasi ’bilateral’ antara Majapahit dengan Dalem Kresna Kepakisan yang bertahta di Gelgel (Klungkung). Majapahit kemudian menjadi ‘model’ modernisasi dalam segala bidang pada era pemerintahan Dalem Kresna Kepakisan tersebut. (Gantini, 2008).

Hubungan bilateral ini ternyata besar lengan berkuasa pada arsitektur di Bali atau dengan terjadi peniruan besar-besaran balasan model ‘modernisasi’ Majapahit oleh seluruh kerajaan Gelgel mengikuti arsitektur yang dibawa oleh Majapahit.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Pura dasar bhuana gelgel - purahindu.wordpress.com


Sebagai misalnya yaitu penerapan asta kosala-kosali pada nyaris seluruh lingkungan permukiman Bali. Kelak dikemudian hari rupa-rupanya dampak ini terasakan sampai sekarang, yaitu membentuk tampang arsitektur Bali yang hampir “homogen” yang begitu mendominasi nyaris diseluruh Bali.

Setelah Majapahit berhasil menaklukan Bali, maka efek arsitekturnya terasa makin lebih banyak didominasi, Ajaran agama pada saat itu sangat mensugesti keanekaragaman arsitektur di Bali. Namun walaupun mendominasi, tampaknya efek Majapahit tidak serta merta memakan kearifan lokal Bali dan terbukti beberapa kearifan setempat masih diterima dan dibiarkan meningkat .


Arsitektur Pura di Bali

Jika kita ingin menyingkap lebih dalam wacana Arsitektur Bali, maka yang pertama mesti dipelajari ialah Arsitektur Pura di Bali yang menjadi kiblat semua karya arsitektur lainnya di Bali. Hal tersebut alasannya adalah adanya pakem yang mengikat dalam pembangunan Pura-pura di Bali. Pakem inilah yang menjadi ciri khas kearifan setempat yang bertahan sampai saat ini.

Sementara untuk performa dan hiasan Arsitektur Bali yang khas mengacu pada beberapa filosofi yang muaranya ada pada Konsep Agama Hindu Bali yang dianut masyarakat Bali. Dalam tipologi bangunan di Bali suatu ornamen dilarang diposisikan asal pilih. Lahirnya ragam hias style Bali ini sudah dipengaruhi oleh hasil Akulturasi tradisi Hindu Majapahit yang meningkat di Bali dan berhubungan dengan sejarah masyarakat Bali itu sendiri.

 Pada massa sebelum kedatangan Majapahit Pengaruh Gaya Arsitektur Majapahit di Bali
Arsitektur Pura di Bali - wikipedia


Bali memiliki local wisdom atau kearifan setempat dan bisa menjaga abjad Arsitekturnya sampai sekarang. Dalam hal ini, Ada relasi dekat antara Arsitektur dan Tradisi masyarakat Bali itu sendiri. Hal ini mengambarkan bahwa Arsitektur tidak hanya selaku wadah suatu acara insan, namun juga sebagai identitas diri masyarakatnya.

Indonesia mulai melihat sejarahnya, tampaknya daerah lain juga mulai melirik Arsitektur Tradisionalnya mirip Rumah Gadang di Sumatra dan Rumah Joglo di Jawa. Alih-alih mengagumi arsitektur modern, Arsitektur tradisional ialah suatu pilihan yang mempesona.

Referensi :



Sumber https://www.arsitur.com/

Senin, 18 Januari 2021

Rumah Akhlak Matakali Maiwa - Sulawesi Selatan

Rumah Adat Matakali Maiwa adalah sebutan untuk rumah akhlak yang ada di Desa Matajang Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Rumah ini terdibagi atas tiga bagian ialah kepala (atas), badan (tengah), dan kaki (bawah). Ketiga bagian rumah ini menjadi satu kesatuan yang tidak mampu dipisahkan dan sangat memprioritaskan fungsi ruang.

Rumah Adat Matakali Maiwa adalah sebutan untuk rumah adat yang ada di Desa Matajang Kecama Rumah Adat Matakali Maiwa - Sulawesi Selatan
Rumah Adat Matakali Maiwa - img by Zulkarnain AS


Di dalam Rumah Adat Matakali Maiwa terdapat banyak arti filosofi dan makna yang diambil dari penafsiran penduduk terhadap fenomena alam serta budpekerti dan tradisi secara turun menurun dari nenek moyang mereka. Namun seiring kemajuan zaman dan berkembangnya teknologi rumah terbaru, banyak penduduk di sana justru tidak mengetahui makna dari filosofi rumah etika mereka sendiri.

Hasil observasi menawarkan bahwa hirarki spasial vertikal rumah Adat Matakali Maiwa kian ke atas makin agung. Pembagian spasialnya terdiri dari tiga bagian meliputi  “Para” yang berfungsi selaku tempat penyimpanan benda-benda sakral dan alat-alat yang mau dipakai dikala  program budpekerti. “Ale Bola” yakni ruang untuk berkumpulnya pemangku budbahasa, imam desa dan masyarakat dalam acara budpekerti. “Awa Bola” ialah ruang yang digunakan sebagai penyimpanan peralatan kerja dan bahan baku.

Rumah Adat Matakali Maiwa ialah tipe rumah panggung yang berisikan spasial vertikal dan horizontal, spasial tersebut terbentuk oleh tiang-tiang secara vertikal dan pasak secara horizontal. Mattulada dalam Koentjaraningrat (1999) juga menerangkan, bahwa spasial rumah tradisional digolongkan berdasarkan fungsinya, yaitu secara vertikal dan horizontal yang keduanya masing-masing dibagi menjadi tiga bab utama. Dari segi bentuk ruang rumah tradisional Bugis berupa sisi empat memanjang ke belakang yang sering disebut dengan ungkapan sulapaeppamerupakan persepsi kepada alam semesta secara universal.

Rumah Adat Matakali Maiwa dijadwalkan tanpa melibatkan seorang arsitek profesional, melainkan dengan memakai sanrobola, adalah seorang yang mahir di dalam hukum dan falsafah rumah tradisional dan panrita bola (tukang hebat). Perancangan rumah ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari bentuk keserasian hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan insan dengan alam.

Rumah Adat Matakali Maiwa mempunyai makna simbolis sekaligus memiliki sisi fungsional didalamnya. Secara horisontal, pembagian ruang spasial Rumah Adat Matakali identik dengan pembagian ruang rumah tradisional lainnya. Berbeda dengan pembagian ruang spasial secara vertikal, yang didasarkan pada kosmologi mikrokosmos yakni pembagian rumah Bugis dibagi pula atas tiga tingkatan, yaitu: rakkeang (loteng, kepala), allebola(badan rumah), dan awa bola (kolong rumah, kaki).

Rumah Adat Matakali Maiwa adalah sebutan untuk rumah adat yang ada di Desa Matajang Kecama Rumah Adat Matakali Maiwa - Sulawesi Selatan
Para, Ale bola, Awa bola

Tangkeballa

Tangkeballa atau "Para" ialah bab kepala dari rumah Adat Matakali Maiwa yang fungsi utamanya sebagai ruang penyimpanan benda-benda pusaka dan alat-alat yang akan dipakai dikala program budpekerti. Adapun sala satu acara akhlak yang sangat penting bagi warga "Matakali - Matajang" yaitu "maccera tomanurung" yang umumnya digelar sekali dalam kurun waktu 2 tahun.

Aturan adat yang berlaku di rumah adab ini melarang penduduk memasuki bagian para, hanya pemangku adat boleh di naik dan memasuki ruang para ini. Oleh karenanya benda-benda pusaka ditempatkan di loteng rumah sebagai kawasan tertinggi pada struktur bangunan yang ialah tempat paling sakral dan agung.

Alebola

Alebola yakni badan rumah yang berisikan lantai dan dinding yang terletak antara lantai dan para yang mempunyai dimensi ruang yang cukup besar adalah sekitar 22×15 meter berisikan parriwa, bala saji, ruang pertemuan, dan dapur.

Awabola

Awa bola, adalah kolong yang terletak pada bagian bawah rumah, yakni antara lantai dengan tanah. Ruang ini ialah bab yang paling profan yang difungsikan selaku kawasan bekerja pada dikala program MacceraTo’Manurung.

Demikianlah mengenai Rumah Adat Matakali Maiwa memiliki makna simbolis sekaligus mempunyai sisi fungsional didalamnya. Semoga bermanfaat dan dapat memperbesar pengetahuan khususnya perihal arsitektur nusantara.

Referensi :

  • Zulkarnain AS. Hirarki Spasial Vertikal Rumah Adat Matakali Maiwa. 
  • Wasilah & Hildayanti, A., (2016). Filosofi Penataan Ruang Spasial Vertikal Pada Rumah Tradisional Saoraja Lapinceng Kabupaten Barru.
  • AS, Zulkarnain., (2015). Kecenderungan wujud Arsitektur Traditional Duri kepada ArsitekturTradisional Bugis dan Toraja di Kabupaten Enrekang.
  • Saing, A. M. (2010). Arsitektur Tradisional Rumah budpekerti Bugis Makassar. Indira Art. Makassar.
  • Hamka, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari. (2015). Hirarki spasial bola ugi Di dusun kajuara kabupaten bone Sulawesi Selatan

Sumber https://www.arsitur.com/

Minggu, 10 Januari 2021

10 Istana Kerajaan Termegah Di Indonesia

Indonesia adalah suatu negara dengan ribuan peninggalan bersejarah. Sebelum merdeka dan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini merupakan kawasan yang berisikan beberapa kerajaan dengan banyak Istana Kerajaan indah yang masih bangkit walaupun usianya sudah ratusan tahun. Setiap istana memiliki ciri khas arsitektur yang unik dan tiada duanya.

Kini, Anda bisa mengunjunginya sebagai tujuan rekreasi Anda. Beberapa istana ini masih digunakan hingga sekarang dan beberapa telah dipakai selaku museum oleh pemerintah setempat atau keluarga keturunan raja yang berhak atas istana tersebut. Berikut adalah daftar istana kerajaan di Indonesia yang masih ada hingga sekarang.

01 Istana Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta

Indonesia adalah sebuah negara dengan ribuan peninggalan bersejarah 10 Istana Kerajaan Termegah di Indonesia
Istana Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta

Istana Ngayogyakarta Hadiningrat yakni istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih dipakai sampai sekarang selaku kawasan tinggal Sultan bersama keluarganya. Istana megah yang terletak di kota Yogyakarta ini adalah salah satu istana termegah di Indonesia.

Istana Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I beberapa bulan setelah Perjanjian Giyanti pada 1755. Lokasi istana ini dibilang ialah bekas benteng yang disebut Garjitawati. Wisma ini digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi sisa-sisa raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang hendak dimakamkan di Imogiri.

Sementara vesri lainnya menyampaikan lokasi istana yakni mata air, Panji Pacethokan berada di tengah Hutan Beringan. Sebelum menempatkan Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono saya tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang kini tergolong dalam Distrik Gamping, Kabupaten Sleman.

02 Istana Kerajaan Surakarta Hadiningrat

Keraton Surakarta atau Istana Surakarta Hadiningrat yaitu istana kesultanan Surakarta yang diresmikan oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744 selaku pengganti istana atau istana Kertasura yang dihancurkan oleh Geger Pecinan pada tahun 1743. Keraton Surakarta yakni salah satu istana termegah pada masanya. . Salah satu arsitek istana ini yaitu Pangeran Mangkubumi (kemudian gelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Istana Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagian besar Istana Surakarta berwarna putih dan biru dengan arsitektur gaya adonan Jawa-Eropa. Saat ini Kraton Surakarta merupakan salah satu pesona Kota Solo. Sebagian besar kompleks istana digunakan sebagai museum yang menyimpan banyak sekali koleksi milik Kasunanan tergolong banyak sekali kado dari raja-raja Eropa, replika pusaka istana dan gamelan. Dari sisi bangunannya, Keraton Surakarta yaitu salah satu pola terbaik dan termegah dari arsitektur istana tradisional Jawa di Jawa.

03 Istana Maimun Medan, Sumatera Utara

Istana Maimun ialah istana yang diwarisi dari Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang ialah putra tertua pendiri Kota Medan, Sultan Mahmud Perkasa Alam. Istana yang dibangun pada tahun 1888 ini dirancang oleh seorang arsitek dari Italia.

Istana seluas 2.772 meter persegi ini mempunyai 30 kamar dengan rancangan unik yang mewarisi unsur-bagian budaya Melayu dalam gaya Islam, Spanyol, India, dan Belanda. Pengaruh arsitektur Belanda terlihat dalam bentuk candi dan jendela yang lebar dan tinggi namun ada juga beberapa pintu yang memberikan dampak dari Spanyol. Pengaruh Islam ialah dengan adanya busur atap dengan ketinggian sekitar 5-8 meter. Bentuk lengkungan ini sungguh populer di Timur Tengah, India dan Turki pada dikala itu.

04 Istano Baso, Tanah Datar, Sumatra Barat

Istano Baso juga diketahui sebagai Istana Pagaruyung yang terletak di Kabupaten Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini sebenarnya ialah replika orisinil dari istana yang terletak di atas Bukit Batu Patah dan terbakar dalam kejadian berdarah yang terjadi pada 1804. Istana ini lalu dibangun kembali namun terbakar lagi pada tahun 1966 alasannya adalah petir yang melanda bab atas istana.

Proses pembangunan kembali Istano Baso dikerjakan dengan menempatkan Tunggak Tuo (Kutub Utama) pada tanggal 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Bpk. Harun Zein. Bangunan gres itu tidak didirikan dalam lokasi usang namun di lokasi baru di selatan Istano Baso yang terbakar.

05 Rumah Istana Sumbawa

Rumah Istana Sumbawa atau Istana Dalam Loka ialah istana kerajaan paling indah dari peninggalan sejarah dari kerajaan yang terletak di kota Sumbawa Besar. Di Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III (1883-1931) untuk mengambil alih bangunan istana yang telah dibangun di atas tanah sebelumnya sebab telah lapuk dimakan usia dan beberapa bahkan telah dibakar. Istana tersebut tergolong Istana Bala Balong, Istana Bala Sawo dan Istana Gunung Setia.

Istana Dalam Loka mempunyai luas sekitar 696,98 meter persegi dengan 2 bangunan kembar yang ditopang oleh 98 tiang kayu jati dan 1 tiang pendek (tiang guru) yang yang dibuat dari pohon cabe. Jumlah keseluruhan rangka yaitu 99 pilar yang melambangkan sifat Allah SWT (Asmaul Husna).

06 Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Tengah

Istana Kesepuhan Cirebon yang diresmikan pada tahun 1452 oleh Pangeran Cakrabuana yang merupakan salah satu Istana Kerajaan yang paling indah di Cirebon. Makna di setiap sudut istana bahkan merupakan arsitektur paling bersejarah. Halaman depan Istana Kasepuhan Cirebon dikelilingi oleh dinding bata merah dan ada suatu paviliun di dalamnya.

Terdapat museum yang cukup lengkap, berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang sakral ialah Kereta Lion Barong yang ialah Kereta Sunan Gunung Jati Kencana. Saat ini kereta tidak lagi digunakan, namun setiap tanggal 1 Syawal kereta ini dikeluarkan untuk pembersihan. Bagian dalam Istana Kasepuhan Cirebon berisikan bangunan utama berwarna putih di mana ada ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja yang mempunyai sembilan kain berwarna di latar belakang yang melambangkan sosok Walisongo.

07 Istana Ismahayana Landak, Kalimantan Barat

Istana yang dimiliki oleh Kerajaan Ismahayana dibangun pada periode pemerintahan raja ke-7, Abisekha Ratu Brawijaya Angkawijaya (Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Dia ialah raja terakhir di kerajaan Ningrat Batur.

Kompleks istana ini mencakup Istana Landak (Istana Ilir), daerah Permasuri (Istana Ulu) dan kediaman Neang Raja (Rumah Sultan). Istana mulai dipulihkan dan direnovasi lagi sekitar tahun 1950-an dan 1960-an sesudah kebakaran yang menyebabkan kerusakan pada beberapa bab istana.

08 Istana Kerajaan Singaraja

Istana Kerajaan Singaraja atau sering disebut Puri Agung Singaraja atau Puri Gede dibangun oleh raja pertama Kerajaan Den Bukit, Ki Gusti Anglurah Pandji Sakti pada 30 Maret 1604. Beliau yakni putra Dalem Sagening, Raja Bali Dwipa yang tinggal di Gelgel Puri, Klungkung.

Raja Ki Gusti Anglurah Pandji Sakti kemudian membangun istana barunya sekitar 5 kilometer tenggara Desa Panji, yang dinamai Sukasada pada 30 Maret 1604. Kemudian ia membangun kastil ketiganya di Gembal Cornfield sekitar 1,5 kilometer utara Sukasada, yang juga bernama Singaraja. diketahui selaku Puri Buleleng dan dikembangkan oleh cucunya Ki Gusti Anglurah Pandji Bali. Puri Singaraja ialah cikal bakal kota yang sekarang diketahui dengan Ibukota Kabupaten Buleleng.

09 Istana Siak Sri Inderapura, Riau

Istana Siak Sri Inderapura yakni kediaman resmi Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889 pada era pemerintahan Sultan Syari Hasyim. Istana yang akhir dibangun pada tahun 1893 yakni peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura, suatu Kerajaan Islam Melayu yang pernah bangun di Indonesia, yang pada waktu itu timbul selaku kerajaan maritim yang berpengaruh dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pantai timur Sumatra dan Semenanjung Melayu.

Istana yang dijuluki "Istana Matahari Timur" ini terletak di Kabupaten Siak. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

10 Istana Kerajaan Kuto Lamo

Istana Kuto Lamo dibangun oleh Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin Jayo. Wikramo bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Inglago ialah salah satu Istana Kerajaan Terindah di Indonesia yang masih bangkit kuat hingga ketika ini. Istana ini digunakan oleh para sultan Palembang Darussalam sebelum pembangunan Istana Kuto Anyar di Benteng Besak Kuto Anyer. Selanjutnya, Kuto Kecik dibongkar oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan dibangun di Rumah Residen Belanda.

Istana Kuto Lamo dikala ini dipakai selaku Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) di Sumatra Selatan selama Lima Hari Lima Malam Revolusi Fisik (1 Januari - 5 Januari 1947).

Itulah daftar istana kerajaan di Indonesia yang masih tersisa dan dilestarikan dengan baik sampai saat ini. Semoga penduduk Indonesia lebih konservatif terhadap peninggalan sejarah sehingga istana-istana ini masih mampu eksis hingga kala mendatang selaku salah satu peninggalan arsitektur kerajaan-kerajaan di Indonesia pada kala lampau.
Sumber https://www.arsitur.com/