iflscience.com. Halo mitra, pernahkah anda mendengar perihal ikan Anglerfish ?. Ikan Anglerfish merupakan ikan predator yang termasuk kedalam ordo Lophiiformes, berbentuk seram dengan ciri khas kepala yang secara umum dikuasai diantara bab badan yang lain. Ikan ini dijuluki ikan monster maritim dalam, hal tersebut didasarkan pada bentuk fisiknya yang menakutkan, ukuran kepalanya yang besar disertai deretan gigi yang tajam kolam monster. Baru-baru ini, para ilmuwan dari Monterey Bay Aquarium Research Institute mengirimkan suatu robot kapal selam yang dikendalikan dari jarak jauh untuk memfilmkan ikan Anglerfish di lingkungannya. Ikan Anglerfish berukuran kecil berhasil didokumenasikan untuk pertama kalinya dan para ilmuwan mampu mengetahui bagaimana cara ikan tersebut bertahan hidup di lingkungan yang minim cahaya. Ikan Anglerfish mempunyai organ yang dapat menghasilkan cahaya (bioluminescent) yang terletak pada antenanya. Antena tersebut digunakan untuk menarik perhatian mangsa. Di lingkungan yang minim cahaya, ikan-ikan kecil dan organisme bahari lainnya kepincut pada cahaya yang dihasilkan oleh antena tersebut dan lalu dapat dimangsa dengan mudah. Sumber https://customations.blogspot.com
Home
Posts filed under Sains
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 Oktober 2020
Minggu, 11 Oktober 2020
Philae, Wahana Antariksa Pertama Sukses Mendarat Di Sebuah Komet
Halo mitra, ruang angkasa memang tanpa batas. Walaupun seorang manusia mengorbankan seluruh abad hidupnya untuk mengeksplorasi antariksa, itu takkan cukup. Perjalanan beberapa puluh tahun cahaya yang ditempuh untuk mengelilingi antariksa memerlukan beberapa generasi untuk mengarunginya. Meski begitu, antusiasme menjelajahi ruang angkasa tak pernah menyurutkan keinginan setiap ilmuwan bahkan orang awam sekalipun. Pada 14 November tahun ini, suatu wahana antariksa milih ESA (European Space Agency) berhasil menciptakan rekor pertama dengan keberhasilannya mendarat di suatu komet pada pukul 16.00 GMT dengan bantuan Rosetta selaku pesawat 'cargo'nya. Wahana antariksa otonom Philae mendarat di komet 67P / Churyumov-Gerasimenko di lokasi pendaratan yang disebut selaku Agilika. Wahana antariksa Philae dan komet tersebut berjarak 310 juta mil dari bumi, maka diharapkan waktu sekitar 28 menit 20 detik bagi sinyal laporan yang dikirimkan dari Philae untuk diterima di stasiun kendali Darmstadt Jerman. Philae yang berbobot sekitar 100 kg dan berukuran sebesar lemari es tersebut diaktifkan sehari sebelum pendaratan dan mendarat dengan selamat pada kecepatan 1 meter per detik. Kecepatan landing yang begitu rendah tersebut dikarenakan medan gravitasi dari komet 67P sangan kecil dengan rasio 1/100.000 dibanding Bumi. Untuk mencegahnya kembali terlontar ke luar angkasa, Philae yang memakai tata cara tripod menancapkan 'kaki-kaki'nya pada komet tersebut dengan cara mengebor permukaan komet. Pendaratan memang sudah dipertimbangkan sehingga Philae menerima cukup sinar matahari sebagai sumber daya untuk kelangsungan aktifitasnya. ESA melaporkan bahwa Philae sudah mulai menangkap gambar dan panorama hingga berlanjut pada misi 2,5 hari dan memanfaatkan total 10 instrumen. Rentang waktu dapat ditingkatkan bila panel surya cukup menerima sinar matahari untuk mengisi baterai Philae. Philae, Wahana Antariksa Pertama Sukses Mendarat di Sebuah Komet. Sumber : wonderfulengineering.com , wikipedia.org Sumber https://customations.blogspot.com
Kamis, 08 Oktober 2020
Susu Artificial Atau Susu Sintetis Kini Benar-Benar Diproduksi
Halo kawan, kalau anda dimintai usulan mengenai susu yang sering kita konsumsi sehari-hari, mungkin kebanyakan dari kita akan berfikir perihal binatang ternak penghasil susu mirip sapi, kuda, kambing dan mamalia sejenisnya. Pernahkah terbayangkan, setelah telur sintetis sekarang hadir pula produk susu sintetis alias susu artificial (produksi / rekayasa ). Adalah perusahaan susu ternama di California dibalik perusahaan rintisan bioteknologi Silicon Valley sebagai aktivis susu artifisial ini. Industri ini berharap rekayasa genetika pada ragi mampu menghasilkan susu yang lebih baik dari susu sapi konvensional atau setidaknya mempunyai mutu yang sama dengan biaya bikinan yang bisa lebih rendah. Setelah telur dan daging imitasi yang disintetis dari materi berkembang-tumbuhan, kini susu imitasi dengan brand Muufri (diucapkan selaku Moo-Free) yang ditemukan pada Mei 2014 ini dibutuhkan mampu memenuhi kebutuhan susu baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Menurut Co-Founder dan CEO Ryan Pandya, sistesis susu dapat menjadi proses yang ideal, dengan kurang dari 20 unsur materi nabati yang mencakup 87% air, protein, lemak, enzim, karbohidrat dan mineral. Susu tersebut disintesis sedemikian rupa sehingga mampu menyamai susu sapi dalam hal rasa, warna, aroma, kekentalan serta kandungan nutrisinya. Muufri yaitu produk bioteknologi yang bermula dari rekayasa genetika DNA sapi yang ditambahkan kedalam sel ragi. Bahan nabati diinkubasi oleh ragi pada suhu dan kondisi yang optimal sehingga protein susu dihasilkan dan dapat disantap layaknya susu konvensional. Susu sintetis Muufri kini dalam tahap pengembangan dan dibutuhkan dapat diproduksi secara komersial pada trend panas 2015. Seperti apa rasanya ya ? mungkinkah mirip susu kedelai ataukah susu nabati dengan rasa susu sapi ? Susu Artificial Atau Susu Sintetis Kini Benar-benar Diproduksi Sebagai gambaran mungkin video berikut ini bisa memjelaskan secara visual. Sumber : wonderfulengineering.com Sumber https://customations.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)